[Kamis Buku] Review Negeri di Ujung Tanduk

Tere_liye_negeri_di_ujung_tanduk

Tere Liye – Negeri di Ujung Tanduk

Judul: Negeri di Ujung Tanduk
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Tama
Jumlah Halaman: 359

Buku ini adalah buku pertama yang gw selesaikan di bulan Maret. Dapet minjem dari Ryan yang nawarin gw baca setelah gw bikin reviewnya Negeri Para Bedebah, Udahdeh, kalo ada yang mau minjemin gw buku gak usah nanya mau gak, langsung kasih pinjem aja. haha.

Berharap banyak setelah baca buku pertamanya, ekspektasi gw sudah melambung tinggi. Gw menantikan kisah Thomas si manusia sempurna yang bisa menggulung konspirasi bisnis seorang diri.

Sinopsis

Kisah dibuka dengan Thomas yang akan bertarung di sebuah klub petarung rahasia di Hongkong. Sungguh menjanjikan, dia akan menghadapi monster yang tak terkalahkan oleh petarung mancanegara manapun sampai buku ini dimulai. Cerita kemudian mundur ke beberapa jam sebelumnya dimana Thomas yang di buku pertama adalah seorang ahli ekonomi muda, ternyata menjadi pembicara di sebuah konferensi politik internasional. Yes, politik.

Latar belakang Thomas sebagai ahli politk pun diceritakan dengan cukup masuk akal di mana dia sebelumnya mengambil gelar ganda semasa kuliah mengambil gelar Master. Selain master di bidang eknomi, ternyata dia juga bekerja keras mengambil kualifikasi bidang politik. Kemudian cerita dilemparkan lagi ke depan di mana ternyata saat ini Thomas dan firma konsultan ekonominya sudah membuka satu unit khusus yang melayani bidang politik.

Siapapun yang mau menang kampanye, sebaiknya menggunakan jasa Thomas.

Tentu saja kemudian Thomas harus terlibat dalam sebuah skenario besar yang melibatkan para elit negerinya dimana fokus cerita kemudian adalah menyelamatkan salah seorang petinggi partai yang ikut dalam konvensi untuk maju sebagai calon presiden di pemilu berikutnya di negeri itu. Intrik dan skenario konspirasi pun bertebaran di sana-sini untuk menjegal sang jago yang menurut gw sekali lagi dengan sangat cerdar digambarkan untuk mengingatkan pembaca kepada beberapa nama yang pernah muncul di ranah politik Indonesia.

Berhasilkah Thomas membawa kandidat untuk mengikuti konvensi dan menjadikannya calonpresiden negeri di ujung tanduk?

Verdict

Tere Liye dalam buku ini seolah ingin mengajak gw dan orang yang baca untuk lebih melek dan peduli sama duni politik Indonesia. Dari salah satu quotenya:

“Jika kita memilih tidak peduli, lebih sibuk dengan urusan masing-masing, nasib negeri ini persis seperti sekeranjang telur di ujung tanduk, hanya soal waktu akan pecah berantakan.”

Niatan yang sungguh mulia dan menurut gw memang setiap warga negara seharusnya ikut aktif mengawasi dan terlibat dalam kehidupan politik negeri ini. Tidak hanya apatis dan membiarkan semuanya terjadi seenak udel para politikus.

Tema yang sungguh mulia seperti gw temui di buku-buku Tere Liye yang lain.

Kalo soal cerita, meskipun menghadirkan ketegangan yang lebih seru dan lebih besar skala-nya, menurut gw buku ini kurang menggigit. Entah karena faktor politiknya ataukah karena justru kurangnya elemen kejutan yang menggigit. Kalau saja buku ini difilmkan, sebagai penggemar film dengan aksi menegangkan, gw akan seneng banget karena Negeri di Ujung Tanduk ini menampilkan jauh lebih banyak adegan spektakuler. Paling gak sih waktu gw baca di kepala gw begitu.

Tapi sebagai penggemar setia film dengan plot mengejutkan, gw akan merasa kebosanan mulai dari seperempat awal film ini diputar karena entah gw nya yang udah keseringan baca plot twistnya para penulis flash fiction yang bertebaran di blog atau karena emang resep yang dipakai cenderung sama. Hampir 90% dari alur cerita yang seharusnya menegangkan sudah bisa gw bayangkan bakalan gimana-gimananya.

Very minimum element of surprise.

Selain itu, gw malah cenderung berharap Thomas akan menemukan sedikit kisah cinta di buku ini yang ternyata sama sekali tidak ada. Seolah dia manusia yang terbuat dari baja tanpa kelembutan hati. Maggie sang sekretaris kalau di banyak film dan buku action sudah pasti jadi kandidat love interestnya pun hanya bisa mendapatkan cuti dan bonus senilai dua mobil perusahaan.

Entahlah.

Tapi secara keseluruhan kalo memang suka baca buku pertamanya, gak akan kesulitan kok menyukai dan menikmati membaca buku Negeri di Ujung Tanduk ini selama tidak mengharapkan sesuatu yang wow banget.

Tiga dari lima-lah ya.

Kalo ada yang tertarik baca review buku lainnya bisa dibaca di kategori review buku.

10 review buku terakhir yang dipublish di blog ini:

Advertisements

34 thoughts on “[Kamis Buku] Review Negeri di Ujung Tanduk

  1. aku begitu khatam yg bedebah lgsg capcus toko buku beli ini, mas. dan rada ngerasanya kurang seru sih dibanding pas baca bedebah. ketinggian ekspektasi jg mgkn

    Liked by 1 person

  2. Hm… tentang politik dan kepedulian serta kenyataan yang ada di sekitar kita ya, Mas. Weleh… politik kadang memang kejam, apalagi kalau sudah menyerempet ke urusan hukum :huhu.
    Saya belum pernah baca buku ini, tapi beberapa teman yang sudah baca memang mengatakan hal yang sama: sedikit di bawah ekspektasi :hehe.
    Terima kasih buat ulasannya!

    Like

  3. Iya.. klo dibadingkan ama negeri para bedebah, yang ini plotnya lebih gampang ketebak. Coba deh Rindu mas, atau Bumi. Temanya fiksi banget tapi seruuuuu…
    Mau aku pinjemin? 😀

    Like

  4. Polanya masih sama ya dan. Gak gitu gigit but then its still ok for me.

    Anyway, gue pun menantikan kisah percintaan yg diselipkan dalam cerita… either with julia or Maggie…

    Like

  5. Sy suka baca buku tp kok mlah g pernah sama skali baca tere liye ya… kemana aja… suka g trtarik aja gitu… mungkin krn otak cetek jd g sanggup bc yg berat2 heheheh

    Like

  6. duh, Tere Liye novelnya berbobot, bagus, bestseller pula. aku belum pernah baca novelnya tere liye loh ._. kayaknya harus berkembang deh, jangan cuma baca novelkomedi doang ._.

    Like

  7. Merespon quote dari buku itu, sebenarnya aku peduli dg politik di negeri. Tapi (mungkin ini terjadi pada banyak orang juga) aku nggak tau bagaimana bisa mengekspresikan kepedulianku sehingga bermanfaat buat bangsa dan negara, karena kalau mau mengikuti jalur birokrasi jelas tidak sanggup 😀

    Like

Comments are closed.