#30 Industri Rokok dan Petani Tembakau

Thniking

Thniking

Sudah hari ke 30 dan semakin susah memutuskan mana yang mau gw post. Masih banyak usulan ide dari manteman yang bagus-buaguus.

Ide tantangan yang mau gw posting hari ini sih berat banget. Tentang kampanye anti rokok dan nasib petani tembakau buah tantangan dari Mba Ririe Khayan. Tantangan lengkapnya panjang banget deh. Sebagiannya sebagai berikut:

Di sisi kesehatan sedemikian gencar kampanye anti rokok tp di sektor hulu yakni petani tembakau tidak diberikan opsi alterntif yg mendukung suksesnya kampanye anti rokok.

Faktanya, yg diwacanakan ke petani bgm mmghasilkan tembakau yg berkualitas utk produksi rokok.

Fakta lain pula, hrga tembakau lbh tinggi nilainya drpd harga gabah. Jk di hitung, menanam tembakau lbh besar kontribusinya dlm kesejahteraan petani.

Jujur kata Mba Ririe, topik inilah yang paling menggugah rasa ingin menulis tapi apalah daya sayahnya sangat terbatas pengetahuannya tentang sisi lain industri rokok. Selama ini gw emang sangat tidak suka sama perokok, terutama yang merokok di tempat-tempat umum. Banyak temen gw yang perokok tapi mereka memilih menyingkir ketika merokok ketika di sekitarnya ada orang-orang yang tidak merokok.

Tapi, gw juga ga bisa mengingkari jasa rokok dalam membesarkan gw. Seperti sering diceritakan di sini kalo Ibuk di Surabaya buka toko kecil-kecilan untuk membantu membiayai sekolah gw dan adek, dan iya, rokok adalah salah satu komoditas terlaris yang mana gw juga sering banget diminta Ibuk buat kulak-an dan antri di agen rokok besar dan beli rokok dalam jumlah besar.

Kalau ditanya bagaimana kampanye anti rokok dan pengaruhnya ke Ibuk dan dagangannya mungkin gw bisa dengan enteng bilang kalo Ibuk bisa beralih ke barang dagangan lain yang notabene adalah kebutuhan sehari-hari semacem beras, minyak, (maaf) pembalut wanita dan obat-obatan bebas. Tapi kalau ditanya gimana dengan petani tembakau? Gw bingung jawabnya.

Baca berbagai sumber berita dan salah satunya adalah postingan Mbak Nurul tentang opininya yang dimuat di Jawapos yang membahas mengenai Susi dan Tuhan Sembilan Senti, juga tentang berita-berita di media massa yang memberitakan yang sebagian besar tidak mendukung industri rokok di mana industri rokok dituding hanya bersembunyi di balik petani tembakau dan menjadikan petani tembakau sebagai tameng. Harga rokok berhasil ditekan serendah mungkin supaya masih banyak rakyat Indonesia yang bsisa beli dengan mudah meskipun cukai rokok naik sedemikian hingga sedangkan petani tembakau menjual hasil panennya dengan harga yang tidak bisa dibilang menguntungkan dan bisa mengangkat harkat dan martabat para petani tembakau. Let me write what I read first then my opinion will follow.

Menurut artikel dari Tobacco Control Support Centre, keseriusan pemerintah berperan banget dalam mengangkat para petani tembakau ini dari posisinya sebagai tameng industri rokok sekaligus meningkatkan pengetatan aturan-aturan dalam industri rokok. Diberikan contoh keberhasilan pemerintah India menerapkan perubahan pengetatan aturan industri rokok dengan sebelumnya menyiapkan infrastruktur dan tanaman alternatif untuk petani tembakau. Di Indonesia sayangnya harga gabah panenan petani masih jauh lebih murah dibandingkan harga tembakau.

Menurut pendapat gw pribadi:

Pengetatan terhadap industri rokok harus segera dilakukan karena menurut gw harga rokok dan pengawasan terhadap penjualan rokok di Indonesia amat sangat rendah. Bahkan anak SD bisa beli rokok dengan alasan disuruh sama bapaknya. Susah memang mengawasi penjualan rokok secara langsung di tingkat pengecer, tapi paling nggak dengan menaikkan harga rokok sampai ke level yang kalo mau beli kudu mikir dulu bakalan mendiscourage para pelanggan rokoknya. Meeen, bayangin aja, sekarang berapa? dua belas ribu bisa dapet sebungkus rokok isi 16 batang ya? DUA BELAS RIBU!! Sudah termasuk cukai rokoknya.

Trus gw pernah lihat acara di salah satu TV swasta kalo cukai rokok yang banyak dikeluhkan oleh para produsen rokok itu ternyata dibayar oleh siapa? Dibayar oleh para pembeli rokok. Bapak-bapak tukang ojek di pinggir jalan yang mungkin penghasilan per harinya hanya cukup buat beli makan hari itu dan sedikit nabung buat biaya sekolah anaknya bayarin pajak cukai rokok ke negara sementara konglomerasi pabrik rokok menikmati hasil uang dari para rakyat kecil yang mau aja ngeracunin badan mereka sendiri.

Naikin harga rokoknya sampe taraf yang gak wajar dan bikin orang mikir sekian puluh kali kalo mau merokok, tapi-tapi-tapi-tapi sebelum itu para petani tembakau yang bakalan menjerit merana karena berkurangnya penyerapan industri rokok kudu beneran disiapin sama pemerintah. Kalo memang harga padi masih lebih murah dari harga tembakau, tata niaga beras kudu beneran diperbaiki, sistem irigasi, distribusi pupuk dan lain sebagainya kudu dibenerin dulu. Yamasa Indonesia yang kalo foto sawahnya diinstagramin bisa bikin orang nahan napas gak bisa swasembada beras? Gw aseli kangen loh jargon-jargon swasembada beras berkumandang lagi di sekolah-sekolah SD. Masih gak sih?

Ato kalo nggak, dengan 200 juta lebih penduduk Indonesia, pasti ada deh komoditi lain yang lebih mahal dari tembakau dan terserap oleh rakyat Indonesia sendiri. Buah, sayur atau taneman lain? Jujur gw gak tahu taneman apakah itu tapi mestinya ini jadi tugas pemerintah kan untuk menyiapkan sistem pertanian yang terintegrasi terpadu dan mumpuni untuk para petani dari sebuah negara agraris yang ke depannya juga bisa lebih memperketat industri rokok Indonesia.

Ini baru ngomongin petani tembakau ya? Belom ngomongin buruh pabrik loh yang mana gw pernah hidup di tengah-tengah para buruh pabrik rokok yang bangga dengan pekerjaannya.

Aselik gw gemes dengan murahnya rokok dan bertebarannya asep rokok dimana-mana tapi gw juga gak ngerti gimana bisa membantu petani tembakau. Kalau ada yang mau ngajakin kerjasama dalam kapasitas gw yang ada ini gw bersedia banget loh. Ada temen yang bisa kasih ide kira-kira apa yang bisa gw lakukan?

PS: gw sengaja gak kasih link di tengah postingan gw ini karena belum bisa. Jadi maaf kalo bacanya ga enak karena gak bisa langsung bacanya. Sementara gw kasih di bawah ini aja ya daftar bacaan hasil googling gw waktu bikin postingan ini. Mungkin banyak bahan bacaan lain yang perlu gw baca dan kalo temen-temen berkenan silahkan share ke gw ya. Terimakasih sebelumnya.

PPS: Mba Ririe, mohon maaf juga kalo isinya gak dalem dan gak sesuai harapan dan terbitnya sore banget, temanya berat bangettt. Kepala berasep pas bikin postingan ini. 😀

Daftar Pustaka:

Advertisements

37 thoughts on “#30 Industri Rokok dan Petani Tembakau

  1. IMHO… ini sama saja kyk ngomongin masalah PKL yg sudah membuat rusuh kondisi tata kota, tapi ketika mau digusur, ada byk omongan yg seakan-akan terkesan memberatkan… misal, “ntar kasian para pedagang itu, mau nyari nafkah dimana lagi”, atau “seharusnya pemkot memikirkan nasib mereka dulu nantinya kalau penggusuran benar-benar direalisasikan”, atau “seharusnya pemerintah mengganti rugi”, dan sebagainya dan sebagainya… lha ini siapa to yg sebenarnya dirugikan… padahal kalau mau ditarik lebih jauh… seharusnya pihak otoritas pengatur, dalam hal ini pemerintah, ya semestinya menegakkan yang hal-hal yang baik-baik saja… jangan lantas faktor kasihan dijadikan alasan klise penegakan ruh berbangsa dan bernegara yang baik… jd jangan heran kalau penegakan terhadap penjualan miras, narkoba, dan kawan-kawan juga terbentur masalah yg sama… atau jangan-jangan pemerintah memang menganggap legal semua bentuk profesi yang menyokong keburukan?? ah jangan… semoga tidak… **maaf mbah menggebu-gebu

    Like

    • Setuju Mbah. Cuma kalo rokok kan makruh ya hukumnya bukan kayak miras *meskipun dari segi kesehatan gak ada baiknya dan MUI konon sudah mengharamkan* jadi ya paling gak pemerintah kudu tegas bener-bener tegas ngatur industri rokok ini. IMHO yadari harganya itu. Naikin selangit dulu deh.
      Apa jangan-jangan dengan naiknya harga yang selangit itu justru akan malah menciptakan alternatif-alternatif baru untuk para petani tembakau ya Mbah?

      Like

    • Ya mungkin.. tp emang kudu tegas setegas tegasnya.. bukan tegas atas pesanan preman yg berkedok industri besar tapinya.. ah sudahlah, sy jg blm terlalu paham gonjang ganjingnya ngatur negeri ini…

      Like

  2. Iya. Rokok di luar negeri harganya selangit, padahal cuman kelas rendah. Apalagi yang kretek. Lha di sini, pas maen ke warnet anak-anak SD sibuk maen game onlen sambil ngisep rokok. Miris. :’

    Aku pernah sedikit debat sama temen yang ngga pernah merokok tentang hal ini. Yaaaah, aku ngerti sih gimana susahnya lepas dari barang yang satu ini. Uda jadi candu, seperti rindu *halah* Apalagi didukung sama harga yang mursida trus ngga pake KTP atau gender. Lha wong ibu-ibu hamil banyak yang tetep ngerokok. 😛

    Kek yang Abang bilang, mungkin kalok aturan pembeliannya di Indonesia lebih jelas dan diperketat bakalan ngurangin jumlah pengguna rokok, meskipun kadang malah ada resiko tingkat kriminal jadi lebih tinggi gegara orang yang uda kelewat nyandu rokok ngehalalin segala cara buat bisa ngerokok lagi. Ini komen kok makin horror ya. Uda ah. ._.

    Like

    • Gw sih yakin Beb kalo rokok tingkat kecanduannya mungkin ga akan sampe bikin orang melakukan hal-hal kriminil ya. Kalo tokok kretek kan bisa dijadikan komoditas andalan yang jadi ciri khas gitu kan ya?
      Sedih deh lihat anak-anak yang ngerokok gitu. Rasanya pengen nempelengin ngingetin kalo itu merusak kesehatan mereka. Hih! 😦

      Like

    • Gak pernah diimplementasikan dengan baik sayangnya Yun. Hiks. Jaman masih kerja di Thamrin aja orang ngerokok kebalkebul bebas.. 😦

      Like

  3. Berat nih. Berat.
    Sebagai perokok saya juga gak mau kok kalau sampai merugikan orang. Makanya kalau ngerokok selalu cari smoking area dulu. Ada teman yang bawa asbak ke mana2 kok biar gak buang sembarangan.

    Soal masalah petani. Kayaknya banyak yang harus dibenahi. Kita sejak dulu diajarkan kalau Indonesia negeri kaya rempah. Kopi. Coklat. You name it. Tapi nyatanya sekarang? Langsung sedih.

    Like

  4. Kalau menurutku yang mau merokok silakan saja asal pada tempatnya. Sayangnya kesadaran perokok di tanah air untuk cari tempat aman kan masih rendah, banyak yg masih merokok ditempat umum, yg kalau di tegor malah lebih galak 😀 . Paling penting kesadaran diri perokoknya sih 😉 .

    Like

    • Iya Mba Nel, kesadaran perokok di sini masih kurang banget. Saya sih ga masalah sama orang yang mau merokok, kan duit mereka sendiri ya, tapi mbokya lihat-lihat sekitarnya.. Makasih Mba Nel 😀

      Liked by 1 person

  5. Daniii, makasiii ya udah di ping-back. Sayang banget, aku juga belum bisa kasih alternatif ide/solusi apapun terkait dunia rokok, tembakau, endebre2nya ini. Sodara saya di Temanggung jadi tajiirrr melintiirrr juga gegara berkutat sbg pemilik lahan tembakau. Saking tajirnya, doi beli kulkas, yg dijadiin lemari baju! *geleng2* Menyetop industri rokok juga kayaknya beraaat, apalagi ada yang mengkaitkan bahwa rokok (kretek) adalah part of budaya negara kita. Akhirnya, langkah yang bisa kita lakukan (terkesan) sporadis, lokal banget, dan yaaa… “small things” gitu. Kalo aku pribadi, cara aku mengekspresikan anti-rokok adalah: (1). Resign dari pabrik rokok (2). Bersikap asertif pada perokok “Mas, bisa tolong matiin rokoknya gak? Saya pusing nih, kalo kena asap rokok” (3). Bikin postingan/tulisan/dll soal sikap kita.

    Postingan dikai ini salah satu langkah yang at least bisa menginspirasi pembaca blog kamu. Semoga 🙂

    Like

    • Eyaaampuuun, kulkas jadi lemari baju. Gilingan tajirnya..
      Kalo rokok kretek part of budaya sih ga masalah ya mbakyu asalkan dihargai mahal banget itu tadi. jadi penikmatnya kan jadi kayak menikmati budaya ya. Ini 12 rebu dapet 16 biji rokok filter. Astaghfirullaaaaaah. Gemeeessss. Iya, sekarang juga kalo ada yang merokok deket saya juga bakalan ta pendeliki Mbakyu. Semoga bisa menginspirasi ya kita biar orang-orang berhenti merokok atau paling ga membantu tata kelola industri rokok yang lebih baik.

      Like

  6. DilemTeruatis yang jangan2 tetap dipelihara para kapitalis industrialis hingga kita hanya bisa miris berpikir kritis tanpa solusi taktis. Terus terang abis baca postingan ini akang malah pusing. Bukan karena nggak ngerti isinya tapi pusing juga mo komentar apa setelahnya. Semoga Indonesia kedepan segera bisa bebas jeratan rokok tanpa menjerat seluruh stakeholder dalam industri tembakau.

    Like

  7. Dilematis yang jangan2 tetap dipelihara para kapitalis industrialis hingga kita hanya bisa miris berpikir kritis tanpa solusi taktis. Terus terang abis baca postingan ini akang malah pusing. Bukan karena nggak ngerti isinya tapi pusing juga mo komentar apa setelahnya. Semoga Indonesia kedepan segera bisa bebas jeratan rokok tanpa menjerat seluruh stakeholder dalam industri tembakau.
    #Maaf komen pertama ada kesalahan teknis xi xi xi xi

    Like

  8. hahaha sampek kepalanya berasep gitu ya mas Dani, berarti pas nulis postingan konsentrasinya sangat tinggi 🙂

    Like

  9. ada GA ttg rokok. tapi entah kenapa, saya tak bisa mengungkapkan apa2 ttg rokok, padahal saya benci banget sama yg namanya rokok. sepertinya harus berhadapan dgn fakta dan data. Salut utk blogger yg bisa mengungkapkan isi hatinya ttg rokok. Dan saya kira tulisan mas Dani ini diikutkan pada GA tsb 🙂

    Like

  10. ALhamdulillah, tema usulanku di terima. IMHO, as personal, aku juga bisa dibilang gemes dan mau emosi dengan apapun yg terkait dengan dunia ahli “hisap” ini. Lha bahkan, mayoritas kaum adam di keluargaku adalah perokok yg mendekati kategori berat.

    Menggarisbawahi harapan mas dany ” jargon swasembada” pangan sebagai salah satu alternatif pengganti bagi sektor hulu dalam mengisi tanaman produktif di sawah ladangnya. Dan semoga saja juga ditekankan dengan trigger agar petani lebih tertarik menanam komoditas non tembakau. KArena kampanye rokok (spt kata Mbak Nurul) tdk bisa dilakukan secara partial. HARUS dari hulu-hilir-muara.

    Once again, many thank you yaaa…

    Like

    • Saya yang terimakasih Mba Ririe, sejak dapet tantangannya sudah gatel banget pengen nulis tapi saya galau tiada akhir karena banyaaaak banget yang kudu dilihat. Baca sumber-sumber dan karena saya sudah condong ke anti rokok jadinya takut malah gak sensitif sama petani tembakau.

      Like

  11. Pingback: Recap Writing Challenge #2 and Giveaway | danikurniawan

  12. Pingback: Nggak Ada Loe, Nggak Rame – bukan bocah biasa

Comments are closed.