Tambah Ilmu Jadi Orang Tua {Session 2 Seminar Tetralogy}

Anak adalah titipan Allah, jangan dikembalikan dalam padaNya dalam keadaan rusak
Bu Elly Risman – Seminar Tetralogy Sesi 2

Bagi para orang tua, atau yang berminat dan berniat menjadi orang tua, bisa membuka rangkuman dan isi seminar Tetraology yang diadakan oleh Supermoms Indonesia di blognya Mba Indah, Challenging Profession untuk rangkuman sesi 1 dan Upgrading Parenting Skills untuk sesi 2.

-Udah-

Hahaha… Nggak Ding. Becanda.

Udah dari jaman pertama kali ikutan seminarnya sebenernya gw mau bikin rangkuman ini buat catatan gw pribadi, tapi nunggu dari Mba Indah yang pasti lengkap ajah entah kenapa adaaa aja yang ngalangin.

Gw dateng ke seminar sabtu pagi itu bareng ama Bul. Di undangannya ditulis jelas-jelas strictly prohibited to bring your child. Tapi kami keukeuh bawa Aaqil karena gak ada yang bisa dititipin buat jaga. Alhasil jadilah kami satu-satunya pasangan yang bawa anak masuk ke ruangan seminar. Mohon maap buat panitia waktu itu.

Kalo buat gw ama Bul yang baru sekitar 5 bulanan jadi orang tua (*gosh how time flies!, gak kerasa aja udah 5 bulan*), ilmu parenting kayak di materi seminar ini. Selama ini yang kami tahu baru dari perkembangan fisiknya. Gimana ngejaga supply ASI, imunisasi apa aja yang perlu, kalo sakit gimana dan apa aja yang perlu kami kuatirkan dan nggak sehingga harus ke dokter dan sebagainya dan sebagainya.  Di sini gw mungkin cuman akan nulis yang gw highlight dan gw inget. Sori tapi gw gak punya daya ingat yang bagus dan selama seminar gw ganti-gantian keluar masuk sama Bul karena gak mau Aaqil nangis sampe ganggu jalannya acara.

Tema seminar ke 2 ini intinya tentang menghindarkan anak dari kekerasan seksual.

Syukurlah untuk pertama kali diulang beberapa materi dari sesi 1 yang mana gw gak ikutan karena telat tahunya.

1. Tentang Pornografi

Jadi ya gw baru tahu kalo di otak ada yang namanya director dari pre-frontal cortex (entah ini apaaaa) yang ngatur baik penilaian baik buruk, kepatuhan, penilaian moral dan hal-hal semacamnya dari seseorang itu baru mateng di umur 25 tahun yang mana di dalemnya itu selain director dan juga ada yang namanya responder. Yang dimaksud mateng di sini adalah berfungsi sempurna dimana si director akan bisa memberikan hal proses yang semestinya setelah ada respon dari responder.  Si responder ini meskipun director sudah kasih keputusan, dia tetep akan merespon dengan kekuatan 3 kali lebih kuat dari kekuatan si director. Jadi misalkan aja gini : Gw barusan makan, trus gw lihat eksrim favorit, responder otak gw akan bilang pengen, tapi karena kenyang director akan ngirim keputusan ga makan. Tapi karena responder lebih kuat, dia akan bilang pengen itu 3 kali. Inilah yang akhirnya jadi bikin gw beli juga tuh es krim meskipun gw tahu gw kenyang.

Itu kejadiannya sama es krim. Kalo sama pornografi? Kebayang gak apa yang kejadian kalo fungsi directornya belom mateng?

Karena baru mateng di usia 25 tahun seharusnya lah anak-anak ga melihat pornografi sama sekali. Pornografi akan melakukan pelatihan nonstop terhadap responder. Dan menurut penelitian otak manusia memang merespon lebih cepat terhadap tubuh telanjang.  Gw inget pertama kali gw lihat gambar porno, kelas 2 SMA, hari jum’at mendekati sholat Jum’at. Di kelas, gw lagi bengong gak jelas karena gak ada guru. Temen-temen pada rame di barisan belakang kelas. Gw penasaran, ikutlah gw ke belakang. Gw masih inget merek majalah dan apa yang gw lihat saat itu. Reaksi pertama gw apa coba?

Kaget setengah mampus. Gw lari keluar kelas, shock, hampir muntah dan deg-degan gak karu-karuan. Sumpah gw agak lama bisa memproses ini. Bahkan sampe pulang sekolah gw masih kepikiran terus. Persis banget sama proses yang disampaikan sama Bu Elly.

Shock >> Dopamin keluar >> Senang >> Blasted >> Melihat lagi >> Merasa lebih baik

Yes, setelah itu, melihat pornografi jadi seperti yang digambarkan di atas. Gw tahu banget dulu gimana temen-temen gw mengkoleksi berpuluh-puluh keping CD dan sebagainya. Dan gw adalah peminjam aktif jaman dulu.

Sedihnya, sekarang ini, materi pornografi ternyata sudah memang ditujukan untuk anak-anak. Setan gak sih. Gw yang dulu ngeliat pertama kali jaman SMA aja jadinya kayak gini apalagi kalo sekarang anak-anak yang disasar targetnya. Berita-berita tentang kejadian yang diakibatkan sama pornografi di usia anak ini bikin gw sukses merinding. Gw nangis waktu sampe ke berita sekumpulan anak SD berhubungan seks di bawah meja resepsi pernikahan di kampung. Ya Allah, apa jadinya anak-anak itu nantiii.

Belom lagi ngebahas paedofilia yang ngincer anak-anak buat dijadiin korban. Akibat pornografi tadi, responder dengan director otak yang udah rusak tuh akan selalu mencari pemuasan. Semakin lama business as usual gak akan lagi cukup. Dan parahnya Bu Elly menyampaikan kalo ultimate sexual arousal can be satisfied by pure children body image. Astaghfirullaah hal adziiiim… Gw merinding semerinding-merindingnya. Manalah gw sempet ngupload poto Aaqil habis mandi *parno abis*

2. Tentang Komunikasi dengan Anak

Gw menggarsibawahi omongannya Bu Elly

Anak jangan pernah disambi

Aaqil yang masih bayi aja sering kami sambi. Alhamdulillaah kami dapet peringatan ini sejak awal. Nyambinya gimana? Sambil guyon sama Aaqil di tempat tidur kami sambil mainan HP.

Apa sih efek nyambi waktu berkomunikasi dengan anak? Anak jadi merasa mereka bukan fokus utama orang tua, yang berujung pada nyari perhatian lebih dan sebagainya-dan sebagainya. Iya kalo nyari perhatiannya ke kita, lha kalo nyari perhatiannya ke orang lain? Gak asing lagi kan kasus anak tanggung hilang diculik sama orang yang baru kenal di social media dan sebagainya setelah kenal baru beberapa hari?

Selain itu juga jangan biasakan berbohong waktu ngomong sama anak. Contoh gampangnya :

Anak : “Yah, minta beliin mobil-mobilan di toko itu dong”
Ayah : “Mobil-mobilannya habis nak, lain kali aja ya”
Anak : “Tapi kemaren temenku habis dari sana masih ada tuh Yah”
Ayah : “Iya itu mobil yang terakhir”

Yang semacem-semacem itu lah ya. Yang mana kalo kebiasaan, si anak bakalan belajar gimana berbohong justru dari orang tuanya sendiri. Tapi gak selamanya bohong itu dilarang ya, nanti gw akan sampai ke bagian yang bohong justru harus diajarkan ke anak-anak.

Kalo ngadepin permintaan anak semacam itu, sebaiknya kita ngadepin anak dengan cara berpikir logis. Ajak anak untuk berfikir logis dan kreatif. Konsep yang gw baru pertama kali denger waktu seminar itu adalah konsep Teaching Thinking. Berkomunikasi dengan anak dengan menggunakan bahasa-bahasa pertanyaan yang memacu si anak untuk berfikir dan mencari jawaban yang akhirnya akan mengembangkan kemampuan anak kita berfikir dan menganalisa.

Konsep ini sudah diajarkan di lembaga pendidikan resmi di Malaysia dan banyak negara lainnya. Sayangnya di Indonesia untuk ukuran orang-orang terpelajarnya yang ikut seminar kemaren (iyeh termasuk gw. buhaahahahaha) sebagian besar  baru denger kemaren.

Dengan konsep ini, selain membantu anak untuk selalu berpikir, kita juga bisa membuat mereka merasa dihargai. Karena mereka akan merasa pendapat mereka didengar. Meskipun nantinya tetap orang tua yang mengambil keputusan, tapi dengan mendengar pendapat mereka, mereka tahu kalo keberadaan mereka diakui. Yak pengakuan keberadaan mereka penting banget untuk membangun karakter anak. Menurut bu Elly, pengakuan ato validasi itu dilakukan dengan 3  langkah:

Penerimaan > Penghargaan > Pujian  –  (CMIIW)

Dengan memberikan pertanyaan, kita melakukan penerimaan terhadap anak kita, dan hal itu akan melatih anak untuk behadapan dengan masalah. Peran kita sebagai orang tua adalah menyediakan fasilitas agar anak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri, bukan memberikan fasilitas untuk menyelesaikan masalah. *ngerti ga? gw agak ambigu sih*

Setelah itu, kita berikan pujian penghargaan ke anak dan kemudian pujian.

Jadi akses bicara antara anak dan orang tua memang harus dibuka selebar-lebarnya. Mengutip dari bukunya Toge Aprilianto:

Komunikasi antara anak dan orang tua masa sekarang ini hendaknya tidak lagi bersifat berjenjang vertikal, tapi lebih ke komunikasi horizontal

3. Orang-orang di Sekitar Kita

Dalam membesarkan anak, tentu saja gak lepas dari orang-orang di sekitar kita. Kalo dapet ilmu baru soal parenting, better kalo kita share itu ke orang tua kita, sodara kita, orang tua temen anak kita, asisten rumah tangga (ini gw belom share ke Teteh sih), gurunya anak kita ato kalo menurut gw sih siapapun yang nantinya berhubungan sama anak kita ya.

Nah soal orang-orang yang ada di sekitar kita, dari kecil kita kudu ajarkan anak untuk membagi orang-orang berdasarka kategori sebagai berikut :

  • orang asing
  • kenalan
  • teman
  • sahabat
  • kerabat
  • muhrim

Tentang definisi masing-masing bisa dibaca di blognya Mba Indah yang Upgrading Parenting Skills untuk sesi 2 yang tadi ya. Yang mau gw garis bawahi adalah untuk orang asing, kita harus ajarkan ke anak kita dari kecil kalo it is strictly prohibited to talk to a stranger. Bukan, kita bukan mau mengajarkan anak kita jadi generasi jutek seperti yang ditanyakan sam Irfan Hakim MC kondang di acara itu. Tapi kita mau menjaga diri dan keselamatan anak kita. Lagian kalo orang asing kan gak mungkin ya nanya jalan ke anak kecil, ato nanya jam dan permen karet.

Trus dari kecil juga kita ajarkan derajat kedekatan berdasarkan urutan tadi. Apa saja yang boleh dilakukan dan tidak sama orang-orang yang masuk dalam kategori kerabat dan sebagainya karena sering kan kita dengar, pelaku kekerasan seksual terhadap anak-anak justru berasal dari orang-orang terdekat di lingkungan kita.

4. Tentang Sentuhan

Gw baru tahu tentang sentuhan di sini.

Parah abis.

Jadi ya, orang tuh seharusnya gak boleh asal peluk dan cium anak orang lain. No no no. Itu berarti tidak menghargai area dan hak milik orang lain. Mestinya kudu minta ijin dulu. Apalagi di masa yang banyak orang gila berkeliaran kayak gini.

Balik ke sentuhan, ada tiga macem sentuhan ternyata :

1. Sentuhan baik –> Dari pundak ke atas dan dari lutut ke bawah
2. Sentuhan meragukan –> Sentuhan dari bahu sampai lutut
3. Sentuhan jelek –> Sentuhan ke anggota badan yang ditutup pakaian renang cewek

Selain itu, sentuhan baik  bisa jadi meragukan kalo cara menyentuhnya juga gak baik. Ngerti maksudnya kan ya?

Sekarang kalo ketemu ama ponakan, gw kudu mikir juga gimana biar tidak melakukan sentuhan yang dikategorikan tidak baik. Sentuhan ini balik lagi dihubungkan dengan konsep kategori orang tadi ya.

5. Peran Ayah

Karena gw bapak-bapak, gw mau highlight juga yang dibilang bu Elly soal peranan Bapak.

Ga jamannya lagi sekarang pembagian peran antara bapak dan ibu di mana bapak cari duit ibu ngasuh anak. Terutama di bagian Ibu ngasuh anak. Peran bapak bener-bener kudu diperhitungkan kalo mau anak tumbuh dengan emosi yang stabil. Balik ke bagian validasi tadi, menurut Bu Elly, peranan seorang ayahlah untuk mulai pembicaraan mengenai konsep diri si anak itu. Bapak kudu bisa ngajakin ngomong anak dan ngasih pengertian bahwasannya anak adalah yang paling berharga buat orang tuanya.

Dari sini orang tua bisa mulai mengembangkan pemahaman anak mengenai konsep kepemilikian diri dan bagaimana menjaga tubuh mereka. Mengenalkan mereka baik dan buruk dan bagaimana menghindarkan anak dari kekerasan seksual.

Dari Bapaklah keberanian diajarkan.

Oiya satu lagi, orang tualah yang sebaiknya mengajarkan konsep beragama dan dari keluargalah nilai-nilai yang dianut seseorang itu didapatkan. Jangan mensubkan pendidikan agama dan moral ke sekolah  dan menuntut tanggung jawab hanya dari sekolah saja.

Itu garis besar yang gw dapatkan dari seminar kemaren. Gw ama Bul nyadar kalo banyak banget yang kudu kami pelajari lagi buat bisa mendidik Aaqil. Rasanya keabisan udara dan mau pingsan pas tahu betapa banyaknya yang kudu kami siapkan. *nah dulu sebelum bikin gak mikir?*

Bismillaah….

Advertisements

108 thoughts on “Tambah Ilmu Jadi Orang Tua {Session 2 Seminar Tetralogy}

  1. Kalau baca yang beginian pas belom punya anak tuuuh… bikin bingung… gak disimpen tp nantinya butuh, disimpen eeeh, lupa pas butuh… ╯︿╰

    Like

  2. Horraaaayy…tfs mas dani, jd tertarik mo ikutan andai aja di banjarmasin ada seminar ini…wajib ikutan kynya yah hihihi 😀
    Haddoooohh iya bener msh banyak yg perlu dipelajari utk mendidik bayi kita yah, heeeemmh baru 4 bulan jd emak2…msh banyak pe-er nya nih dlm hal mendidik anak, once again thanks yah 🙂

    Like

  3. Daniii…apa kabar?
    Semoga semua sehat-sehat ya, termasuk Bul dan Aaqil juga 🙂

    Saya sependapat kalau ngasuh anak itu jangan disambi, ngasuh sambil masak, ngasuh sambil nyerika, ngasuh sambil mainin handphone…duh, jadinya kan setengah-setengah. Cinta dan kasih sayang yang diberikan juga pasti nggak akan optimal.
    Memang sih buat jadi super mom atau super dad kita mesti punya waktu ekstra. Saat anak tidur, barulah kita bekerja. atau saat anak bermain dengan ayahnya, barulah ibu menyetrika…terus terang, saya paling sebel kalau ada ibu-ibu yang duduk berdua dengan anak balitanya di kafe tapi sibuk main handphone dan si anak diabaikan… 😦

    Like

    • Kabar baik Mba Irma..
      Amiiiinn… Maturnuwun doanya Mba Ir. Semoga njenengan juga…
      Wuih, pengalaman dari seorang Ibu yang sudah berhasil nih Mba ir.
      Saya masih baru ngerti dalam tataran teori. Belom tahu nanti prakteknya gimana. Semoga bisa konsisten Mba.

      Makasih ya Mba Ir…

      Like

  4. ihhh kebiasaanku banget itu, main ama anak disambi ngelihat komputer/hp ahhhhh, parah bgt nih aku jadi org tua. thanks for sharing, jadi yg ga dateng ke seminar macam diriku bisa tahu juga

    Like

  5. terima kasih sudha mau merangkum ya 🙂 kalau aku ikutan seminarnya berarti sama2 bawa anak dong hehehe. oops bisa digetok mbak indah nih aku

    Like

  6. Siiip!! Makasih sharingnya mz Dan…
    Jd berasa ikut seminar online nih. 🙂
    Sangat bermanfaat utk calon ibu sepertiku #meski entah kapan gelar ‘calon’ itu dilepas 😀

    Like

  7. Salam kenal sebelumnya 🙂 selama ini jadi silent reader ajah..Wah Pak Dani,terima kasih banget infonya…saya termasuk yang SELALU mainin hape pas sama Zaa anak saya T_T. Jadi merasa bersalah nih…semoga kedepannya nggak lagi..smoga kita selamat dalam mendidik anak-anak amanah Allah ini ya Pak..

    Like

    • Sama-sama Mba Ratna..
      Saya juga baru tahu soal nyambi itu. Padahal biasanya kan umum kita temuin ya Mbak.
      Amiiin… Semoga bisa dikembalikan ke Allah dala keadaan yang sempurna juga.. 😀

      Like

  8. #angguk2. meskipun saya bukan orang tua, tapi saya cukup belajar banyak juga. soalnya kan saya ngajar di junior high school. nah, soal sentuhan. itu sebabnya saya lebih dekat sama anak2 cowok2. soalnya mereka kadang suka melompat ke bahu atau saya balas merangkul bahu mereka. kalau sama murid cewek, tentu saja saya menjaga sikap 😆
    Btw,saya juga baru tau ternyat msti ada pembagian orang-orang di sekitar anak gitu ya mas

    Like

  9. Rangkuman materi seminarnya bisa dimengerti Mas
    Sebenarnya Kalau kita mau belajar dari ortu2 jaman ortu kita bgmn mendidik anak, sebagian besar sudah sama ya Mas, hanya sj saat ini saking banyaknya teknologi jadi kesannya yang “dulu” itu gak bagus

    Like

    • Hehehe. Bener mba Esti, yang penting kudu bisa memilah mana yang mitos dan mana yang beneran bagus ya Mba.. 😀
      Jangan cuma pake istilah “katanya”… hehehe

      Like

  10. ternyata jadi orangtua itu ilmunya musti banyak ya Dan..supaya ga ketinggalan jaman, yang makin lama makin edan ini.
    Gue juga shock pas baca2 tentang materi seminar tetraolgi kemarenan. ternyata banyak hal yang gue ga ketahuin.
    Mudah2an kita bisa menjadi orang tua yang bisa bimbing anak kita dengan baik ya..

    Like

  11. Dan ini dimana seminarnya? topiknya penting banget ini
    aku baru tau kalo anak gak boleh disambi-sambi gitu pantesan aja dia suka bilang gini, mama udah sms annya maksudnya jangan megang hape mulu gitu 😦

    Like

  12. saya tertarik dengan istilah responder dan director,
    jadi memang responder dan director harus dilatih untuk hal-hal positif saja..agar hasil akhirnya positif juga…terimakasih pencerahannya kawan 🙂

    Like

  13. Mas Dani, pelajaran yang sungguh menarik, semoga ini menjadi panduan buat para orang tua dan calon orang tua…

    Thanks Mas sudah di share 🙂

    #catat dulu akh :d

    Like

  14. semoga kita semakin siap jadi orang tua yg baik…
    biar anak sudah remaja …, tetap harus lebih banyak belajarnya…, karena jadi orang tua itu kan nggak ada tamatnya

    Like

  15. menghindarkan anak dari kekerasan seks, Ini kita lakukan mulai anak masih bayi. Perlindungan ini dari keluarga dulu. Islam sangat memperhatikan hal ini Dan. Kamar ibu ayah tidak boleh diakses anak pada tiga waktu. Sesudah isyak, sebelum subuh, dan sesudah dhuhur. ajarilah anak mengetuk pintu bila ada perlu dengan kita pada tiga waktu.

    Like

  16. Waah..lengkap banget..
    nanti klo saya dah pnya anak bisa belajar dr tulisan ini..
    kemarin jg sy dpt hadiah buku, tentang cara menjadi org tua yg baik..hehe

    Like

  17. Wah Dani lengkap juga kok.
    Kan emang pesen Bu Elly bahwa kita harus menyebarkan informasi ini sebanyak mungkin.
    Makasih ya, Dan…semoga dengan nulis di blog, semakin orang tua yang aware akan masalah ini…

    Like

  18. Waah lengkap dan rangkumannya, mudah-mudahan bisa diterapkan semua ya ilmunya *buat gw juga*
    Gw kalo liat keadaan lingkungan dan pergaulan anak sekarang ngeri banget, pengennya gw keremin dirumah aja gak usah keluar gitu. Yahh mudah-mudahan dengan semakin banyaknya seminar kayak gini makin banyak yang sadar dan bisa ada perubahan lebih baik di lingkungan kita.

    Like

  19. pengalaman adalah guru terbaik…
    tapi buat poin satu enggak lah kayakknya ya, pengalaman sumber keterpurukan lagi 😀

    yang jelas aku pengen punya little princess
    yang unyu2 dan lucu

    jadi ayah yang baik
    hahahaha 😀 >,</

    Like

  20. terus terang pada point pertama saya baru nyadar, dulu saya juga muntah, bahkan langsung meriang, namun setelahnya tidak karena biasa mungkin setelah menikah ha ha,, eh btw makasih dan atas penjelasanya baru tahu penjelasannya sekarang

    Like

  21. “anak jangan disambi” dowenggg… gue juga diingetin sama suami jangan maenan henfon terus. dan emang, kalo kita konsen sama anak, ngga berapa lama setelah mereka puas ngobrol, mereka akan cari kegiatan lain kok. dan kita bisa maen henfon lagi hahaha. thanks ya dan postingannya. pingin dateng seminar ini tapi gak ada waktu euy

    Like

    • Hehehe. Tergantung nilai apa yang mau kita tanamkan sama anak kali ya Mba Ika, kami sebisa mungkin menghindari tv. 😀

      Like

Comments are closed.